KEMASAN RAMAH LINGKUNGAN DAN PERKEMBANGANNYA
Kemasan ramah lingkungan adalah jenis kemasan yang didesain dengan sengaja untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan. Bahan-bahan yang dipakai dapat didaur ulang, terurai alamiah, atau dari sumber daya terbarukan.
Sejarah & Perkembangan Kemasan
Di zaman prasejarah, manusia purba menggunakan bahan alami untuk membungkus dan membawa barang-barang, termasuk makanan. Mereka dapat menggunakan daun, kulit hewan dan anyaman tumbuhan.
Kemudian di zaman kuno, peradaban Mesir sudah menggunakan kaca dan keramik untuk menyimpan kosmetik serta obat-obatan. Sedangkan di Romawi, wadah tanah liat yang disebut amphora digunakan untuk mengangkut anggur dan minyak zaitun. Di saat yang sama pula, pemanfaatan kulit binatang, kayu dan logam berkembang dan meluas.

Pada abad pertengahan, tong kayu populer untuk mengangkut serta menyimpan barang-barang seperti ikan, bir dan anggur. Di Asia sendiri, kertas menjadi bahan pembungkus.
Berlanjut di masa Revolusi Industri, penemuan mesin cetak mendukung produksi massal kemasan terbuat dari kertas dan karton. Kaleng timah pun digunakan untuk pengawetan makanan. Kemasan semakin berkembang saat ditemukannya plastik pada abad ke-19.
Perkembangan paling pesat ketika plastik menjadi bahan baku kemasan yang menawarkan daya tahan, fleksibilitas dan biaya produksi yang murah. Yaitu di abad ke-20 dan ke-21, ketika bentuk dan ukuran semakin mudah untuk diwujudkan sesuai keinginan. Di masa ini pun muncul kesadaran pada lingkungan, atas limbah yang dihasilkan. Maka muncul pula konsep kemasan yang lebih dapat berteman dengan alam.
Perubahan kemasan yang dulunya sekedar sebagai wadah, kini menjadi alat pelindung dipadu sebagai alat pemasaran produk yang canggih saat ini. Sejarah kemasan sebagai refleksi atas kebutuhan manusia disertai teknologi untuk menciptakan solusi dalam mengangkut dan melindungi barang.
Kemasan Masa Kini
Kemasan masa kini dapat digolongkan menjadi dua, yaitu dari periode penggunaannya, sebagai berikut:
- Reusable atau ulang pakai,
Yaitu dengan bahan dasar yang bisa dipakai berulang kali, dengan kekuatan dan ketahanan lebih. Konsep ramah lingkungan yang dibawa adalah kemasan ini tidak menjadi sampah instan yang akan menumpuk karena sulitnya didaur ulang.
Bahan yang biasa digunakan antara lain:
- Kain
- Kaca
- Plastik
- Spunbond
- Logam (stainless steel, aluminium, timah, dll)
- Kayu
Karakter kemasan ini adalah harga yang lebih mahal, karena faktor harga bahan baku, ketebalan hingga periode waktu yang lama untuk membeli yang kemasan yang baru. Beberapa kemasan yang reusable yaitu:
- Botol minum tumbler (bahan plastik / kaca)
- Botol termos (bahan stainless steel)
- Tas spunbond
- Tote bag
- Piring / gelas kaca & keramik
- Karung plastik
- Box kayu
- Disposable atau sekali-pakai,
Merupakan kemasan yang digunakan hanya 1 kali, kemudian dibuang. Konsep disposable ini sebagai bagian dari budaya take-away yang mengutamakan kepraktisan dalam membungkus sesuatu dan dikonsumsi di tempat yang lain.
Material pembangunnya antara lain:
- Kertas
- Plastik
- Daun
- Kulit tanaman
- Kayu
- Aluminium
- Spunbond
Menurut Katie Lundin cari Crowdspring, tren kemasan sejak pandemi Covid-19 hingga saat ini yaitu:
- Kemasan yang lebih melindungi (more protective packaging)
Melindungi produk di dalamnya adalah tugas dari sebuah kemasan. Habit belanja online, sang penjual harus memastikan produk tiba dengan aman hingga ke tangan konsumen. Kemasan yang baik menurutnya adalah kuat dalam proses pengiriman dan dapat menampung produk sebanyak mungkin.
- Bahan kemasan yang berpori (porous packaging material)
Kemasan berpori sejatinya dapat membuat produk di dalamnya melepaskan panas, yaitu kelembaban bisa lebih terjaga. Dari studi National Institutes of Health, menyatakan bahwa virus bertahan di karton dalam 24 jam, sedangkan di atas plastik bisa hingga 2 hari.
- Kemasan ramah lingkungan (sustainable packaging)
Konsumen dan desainer sebuah produk sadar pentingnya menjaga lingkungan. Hasil studi dari Trivium pada 2020, melaporkan bahwa 74% konsumen bersedia membayar lebih untuk kemasan yang ramah lingkungan.
- Tipografi yang jelas (clear typography)
Berbagai pembatasan di masa Covid-19, mengurangi interaksi antar manusia. Kemasan menjadi media informasi yang jelas untuk produk di dalamnya, serta promosi yang hendak disampaikan pemilik produk. Bahkan dari kejauhan pun, hanya dari kemasan, audiens sudah memahami apa produk di dalamnya.
- Tidak menimbulkan pertanyaan (no assumptions)
Informasi yang tertera pada kemasan haruslah sejelas mungkin, tidak menimbulkan ambiguitas, pertanyaan atau asumsi bagi konsumen.
Kemasan Ramah Lingkungan di Indonesia
Selama bertahun-tahun, 250 juta ton plastik dibuang oleh masyarakat dunia. Dan permasalahannya, plastik termasuk barang yang paling lama hancur secara alamiah, sedangkan konsumsi dan sampahnya belum bisa mengimbangi kecepatan terurainya. Beberapa ilmuwan Leeds University meneliti bahwa ada 52 juta ton plastik setiap tahun masuk ke lingkungan. Polusi plastik terbesar disumbang oleh negara-negara berkembang, dan kesenjangan global sangat terlihat dalam mengatasi masalah ini.

70% polusi plastik disumbang oleh 20 negara, volume ini sudah sangat melewati kemampuan untuk mengelola sampah tersebut secara efektif. Indonesia termasuk dalam 10 besar negara penyumbang sampah plastik di dunia. Berikut 10 negara yang menghasilkan sampah mikroplastik tertinggi:
- India : 9,3 juta ton per tahun
- Nigeria : 3,5 juta ton per tahun
- Indonesia : 3,4 juta ton per tahun
- Tiongkok : 2,8 juta ton per tahun
- Pakistan : 2,6 juta ton per tahun
- Bangladesh : 1,7 juta ton per tahun
- Rusia : 1,7 juta ton per tahun
- Brazil : 1,4 juta ton per tahun
- Thailand : 1,0 juta ton per tahun
- Kongo : 1,0 juta ton per tahun
Meningkatnya kesadaran akan bahaya sampah plastik, beberapa kota di Indonesia telah menerapkan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai untuk mencegah pencemaran lingkungan. Kota-kota tersebut adalah:
- Jakarta
- Banjarmasin
- Denpasar
- Bogor
- Balikpapan
- Bekasi
- Palembang
- Singkawang
Dengan larangan ini, kota-kota tersebut berinisiatif untuk mengharuskan toko-toko retail modern, pasar-pasar hingga masyarakatnya beralih ke pola lebih ramah lingkungan. Dan secara tidak langsung pun, larangan ini berdampak pada trend di masyarakat Indonesia. Karena larangan plastik, maka sebuah bisnis berpeluang mengangkat konsep ramah lingkungan sebagai nilai tambah dalam produknya. Sehingga saat ini menjadi trend, bahwa eco-friendly adalah cara memikat konsumen untuk mengkonsumsi produk yang lebih ramah lingkungan.
Penerapan meminimalisir sampah plastik, dilakukan dengan Pola dan tren sebagai berikut:
- Tas belanja berbayar
- Membawa tas belanja sendiri.
- Mengganti tas plastik sekali pakai dengan paper bag, tas spunbond atau tas kain.
- Membawa botol minum, dan mengisi ulang sendiri.
- Memilah sampah organik, terurai dan non-terurai.
Bahan baku kemasan ramah lingkungan yang ada di Indonesia:
- Kertas
Produk kemasan dengan bahan dasar kertas antara lain:
- Paper bag atau kantong kertas
- Meal box & snack box
- Box makan (lunch box)
- Kertas pembungkus makanan
- Kertas roti atau baking paper
- Kertas nasi atau wrapping paper
- Paper tray
- Piring
- Paper cup (gelas minum)
Produk kemasan bahan kertas pun memiliki berbagai segmen yang menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Ada yang tebal, ada yang tipis, ada pula dengan treatment khusus untuk makanan spesial. Bahan kertas memberi kemudahan pada pebisnis packaging untuk memberikan logo, dan printing beraneka ragam.

- Karton daur ulang
Karton daur ulang pada prinsipnya berbahan dasar kertas, yang diolah kembali dan diubah wujudnya. Konsep daur ulang sangat
- Box makanan
- Box snack
- Box Online (kotak untuk penjualan barang-barang online)
- Kertas pembungkus anti benturan
- Dll

- Bagasse
Merupakan bahan baku yang terbuat dari serat batang tebu atau sorgum yang sudah diperas sarinya. Serat tebu ini langsung diolah menjadi pulp, dan langsung dicetak menjadi berbagai kemasan makanan. Terlebih karena keunggulannya untuk tahan dari air dan minyak, dan juga tahan panas. Produk jadi bagasse sebagai berikut:
- Burger box
- Meal box (box makanan)
- Tempat saos (sauce cup)
- Beverage cup (gelas minum)
- Salad box
- Cutlery (sendok, garpu, pisau)
- Bowl (mangkok makanan)
- Kontainer makanan

- Bambu
Serat bambu mempunyai karakter serat yang kuat, tahan lama dan anti-mikroba alami. Oleh karena itu bambu sangat aman untuk diolah bersama makanan. Selain itu, serat bambu menyajikan estetika menarik untuk menambah nilai tampilan sebuah produk.
- Cutlery (sendok, garpu, pisau, sumpit)
- Alas makanan (piring, mangkok, tray)
- Gelas minum
- Kontainer makanan
- Dll

- Daun
Daun juga dapat langsung digunakan sebagai pembungkus makanan. Selain murah, daun pun dapat memberikan kesan estetik, tradisional dan back-to-nature. Keunikan lainnya adalah aroma khas daun memperkaya rasa makanan di dalamnya. Daun yang biasa digunakan antara lain:
- Daun pisang
Membungkus berbagai makanan dari nasi, membakar ikan & pepes, membuat lontong, membungkus snack seperti tape, nagasari dan masih banyak lagi. Daun pisang dipercaya tahan panas, lebar dan fleksibel untuk membungkus berbagai makanan.
- Daun jati
Biasa digunakan di Jawa Tengah yang banyak menghasilkan pohon jati. Daun jati digunakan untuk membungkus aneka nasi rames. Dan juga dapat membungkus olahan makanan untuk dibakar atau dipanggang. Siapa sangka, daun jati pun dipercaya dapat mempertahankan kehangatan makanan, karena karakter daunnya yang tebal, dan juga antibakteri.
- Daun kelapa
Daun kelapa digunakan untuk membuat ketupat maupun lepet. Tapi anyaman daun kelapa pun dapat disulap menjadi keranjang atau tas untuk membawa barang yang lebih besar dan lebih banyak.
- Daun talas
Karena dikenal lebar, daun ini digunakan pula sebagai pembungkus makanan, seperti Pendap dari Bengkulu, Buntil dari Jawa Tengah dan Bebetok dari pulau Lombok.
- Daun jambu air
Tak banyak orang mengira bahwa daun jambu air yang lebar juga dapat membungkus makanan.

- Kayu
Kayu juga menjadi pilihan untuk menjadi kemasan yang penuh estetika dan alami. Kayu membutuhkan penanganan khusus untuk menghindari bakteri dan jamur dan juga butuh biaya lebih untuk mengolahnya menjadi kemasan. Aplikasi kayu menjadi kemasan antara lain:
- Nampan atau baki
- Mangkok, piring dan gelas
- Cutlery (sendok, garpu, pisau)
- Box atau kotak kue
Jenis kayu yang biasa dipakai untuk menjadi kemasan seperti kayu pinus, kelapa, jati, ek, mahoni dan kenari.

Kemasan ramah lingkungan terkerek naik konsumsinya pasca pandemi Covid-19. Kebiasaan dine-in atau makan di tempat bergeser ke arah take-away. Terlebih semakin menjamurnya ojek online dan outlet penjualan makanan secara online. Kemasan makanan yang bersifat disposable (sekali pakai) berkembang permintaannya. Kemasan plastik memang belum tergantikan, namun Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) meningkatkan nilai jualnya dengan kemasan dengan konsep lebih ramah lingkungan.
Salah satunya kemasan kertas, yang menjadi primadona kemasan saat ini. Keunggulan kemasan kertas yaitu:
- Murah
Alternatif pengganti plastik, kertas adalah bahan baku yang tergolong kompetitif dari sisi produksi, dan harga terjangkau pada produk jadi.
- Fleksibel & Kustomisasi
Kertas dapat dibentuk dengan berbagai ukuran, dan sangat mudah untuk dicetak dengan berbagai warna.
- Estetik
Bahan kertas terkesan lebih elegan daripada plastik, karena bentuknya yang rigid dan serat kertas yang menonjolkan karakter alamiah.
- Efisien dan Ringan
Kemasan berbahan kertas tidak memakan banyak tempat, dan juga ringan. Untuk berjualan online baik makanan maupun barang non-makanan, kemasan kertas menjadi pilihan yang ramah lingkungan yang paling baik.
- Mudah hancur alamiah
Kemasan kertas dipercaya sebagai kemasan yang hancur alamiah dengan cepat, tanpa menyebabkan polusi. Berdasarkan ketebalan dan jenisnya, kertas bisa hancur secara alamiah selama 30 hingga 150 hari. Jika lebih tebal dan sudah melalui proses treatment lainnya bisa butuh waktu lebih panjang, misal hingga 300 hari.
- Branding
Fleksibilitas atas ukuran, bentuk dan printing membuat kemasan kertas sebagai media promosi yang paling efektif saat ini. Produsen dengan cara manual pun sudah mampu akomodir kebutuhan branding UMKM, tanpa harus menggunakan mesin produksi yang besar sekali pun.
PackagingMe dan Kemasan Ramah Lingkungan
PackagingMe sebagai salah satu distributor kemasan di Indonesia, mengedepankan produk kemasan dengan konsep ramah lingkungan. Kemasan eco-friendly menjadi produk prioritas PackagingMe, mengacu pada kebutuhan UMKM yang semakin meningkat akan sajian makanan dalam packaging eco friendly. Branding bahwa sebuah bisnis sudah lebih peduli lingkungan dibandingkan pesaing, menjadi kesempatan bagi PackagingMe untuk menawarkan solusi kemasan praktis yang tetap eco friendly.
Layanan pemasaran secara online baik brand PackagingMe, dan juga turut menjadi bagian dari brand Grade pada penjualan online B2C, PackagingMe mendongkrak kebiasaan masyarakat untuk beralih ke kemasan yang mudah terurai secara alamiah. Dalam hal ini mengedepankan produk-produk berbahan dasar kertas dan bagasse. Dengan memanfaatkan jaringan yang telah terbentuk di seluruh Indonesia, PackagingMe dapat dengan cepat mengakomodasi kebutuhan kemasan dengan kemampuan memenuhi permintaan sebagai berikut:
- Kuantiti besar hingga kecil (grosir hingga ecer)
- Custom logo dengan minimal pembelian
- Custom bentuk dan ukuran dengan minimal pembelian
- Pengiriman yang cepat dalam 1-3 hari
- Konsultasi kemasan sesuai kebutuhan
- Produk dengan bahan kertas yang sudah tersertifikasi legal wood
Bergerak lebih maju membawa perubahan,
PackagingMe solusi kemasan UMKM berkelanjutan.
Leave a reply